SUNGAI PENUH, Brilyatnews.id – Perhatian dan upaya pelestarian warisan budaya daerah yang dilakukan Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Sungai Penuh kembali mendapat perhatian melalui pengakuan terhadap tokoh seni tradisional. Arwati, yang dikenal dengan sapaan Tino Ruwai atau Nenek Ruwai, maestro sekaligus pencetus kesenian Tari Rentak Kudo asal Tanjung Rawang, menerima Sertifikat Pelestari Warisan Budaya Ntak Awo dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan pada 17 Oktober 2026, yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi. Pengakuan ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kota Sungai Penuh sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat perhatian pemerintah terhadap pelaku dan maestro seni budaya daerah.
Dalam hal ini, Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Sungai Penuh melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Elia, memiliki peran penting dalam mendorong perhatian terhadap keberadaan pelaku seni, maestro, serta kekayaan tradisi lokal yang menjadi identitas masyarakat.
Perhatian terhadap tokoh budaya seperti Arwati merupakan bagian penting dari upaya pemerintah daerah menjaga keberlangsungan warisan budaya. Sebab, pelestarian kebudayaan tidak hanya berbicara mengenai pertunjukan seni, tetapi juga menyangkut pendataan, pembinaan, dokumentasi, pengenalan sejarah, serta regenerasi pelaku budaya agar tradisi tidak terputus.
Arwati atau Tino Ruwai merupakan figur penting dalam perjalanan perkembangan Tari Rentak Kudo di Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Sejak 1989, ia dikenal menginisiasi dan mengembangkan bentuk pertunjukan Rentak Kudo yang berakar dari tradisi Asyek Kerinci menjadi kesenian yang lebih dinamis dan dikenal masyarakat luas.
Kesenian Rentak Kudo memiliki karakteristik gerakan kaki yang menghentak menyerupai langkah kuda, diiringi tabuhan gendang dan rebana serta lantunan tale atau pantun. Seruan khas “Ahai Ahai Ahai Ruwai Aeh” menjadi salah satu identitas yang melekat dalam pertunjukan tersebut.
Berkat perjalanan panjang pelestarian dan perkembangannya, Tari Rentak Kudo Sungai Penuh juga pernah mengukir prestasi dengan meraih Juara I kategori Atraksi Budaya Terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) tahun 2019.
Prestasi dan penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa seni budaya lokal memiliki potensi besar untuk menjadi kebanggaan daerah sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata Kota Sungai Penuh.
Melalui Bidang Kebudayaan, Disbudparpora Kota Sungai Penuh diharapkan terus memperkuat program pelestarian budaya dengan memberikan ruang bagi para maestro, mendukung aktivitas sanggar seni, mendorong keterlibatan generasi muda, serta memperkenalkan kesenian tradisional melalui berbagai kegiatan kebudayaan.
Kepala Bidang Kebudayaan Elia diharapkan dapat terus mendorong sinergi antara pemerintah daerah, pelaku seni, komunitas budaya, dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Dengan demikian, keberadaan para maestro tidak hanya mendapat pengakuan, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi generasi penerus.
Penghargaan yang diterima Arwati menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Tanjung Rawang, Hamparan Rawang, serta seluruh masyarakat Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga kebudayaan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan festival, tetapi juga dari kemampuan pemerintah dan masyarakat mempertahankan tradisi, menghargai para maestro, serta memastikan warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Sungai Penuh diharapkan terus hadir sebagai penggerak pelestarian tradisi, sehingga kekayaan budaya daerah tetap terjaga dan semakin dikenal di tingkat nasional.
Penulis : Rakina
Editor : Rakina






